voice letter
Star on June
written and read by Ulivia Embun
Hi, Karl. Apa kabar?
Satu minggu terakhir rasanya aku udah jauh banget dari kamu. And yeah, I think I miss you. Tapi ada satu hal yang jauh lebih penting. Aku tahu—atau mungkin engga yah? kalau kamu lagi nggak baik-baik aja.
I know exactly how it feels. Loving someone we can't have, trying so hard to move on, but our heart is still stuck on them. It's painful. Bahkan nggak jarang kita blaming ourselves just because we can't let the feelings go.
Dan karena itu, aku yang awalnya mengira being here could help you, sepertinya justru malah nambahin beban pikiran dan perasaan buat kamu ya?
Beberapa hari lalu, di timeline aku lewat pertanyaan kurang lebih kayak gini,
“Which is worse: loving someone you can't have, or having someone you can't love?”
Both are equally painful.
Dan aku nggak sanggup liat kamu harus rasain keduanya sekaligus. Even when I asked you not to worry about me, kamu pasti bakal tetap diam-diam dihantui perasaan bersalah. Aku nggak mau kamu terus-terusan bawa beban itu.
Aku nggak mau kamu makin drop. Gimana mungkin aku tega liat orang yang aku sayang sedih dan malah makin stres?
So… I don't want to be selfish anymore. I will let you go. Ya.. I will let you go..
After this, I will try so hard not to disturb you anymore. Not because I don't want to, not because I don't miss you, but because I know that sometimes, silence is the only thing left to give.
Bukan, bukan juga karena aku memilih untuk berhenti mencintai kamu. But because I want you to live better, to breathe lighter.
I just want you to know that my feelings for you have been nothing but real. Aku sangat mengagumi cara kamu ngeliat dunia, isi kepala kamu, semangat kamu, I really love your energy. You are far more amazing than you give yourself credit for.
Aku harap, seiring berjalannya waktu, kamu bisa melihat diri kamu sendiri pakai kacamata yang sama kayak aku melihat kamu. Tolong, cintai diri kamu lebih dari apa pun ya, Karl. Karena kamu pantas dapet cinta yang utuh, terutama dari diri kamu sendiri.
Pertemuan kita yang cuma sebentar itu mengajarkan aku banyak sekali manis. Tentang menikmati waktu sama teman-teman selagi mereka masih sama kita, tentang memperjuangkan mimpi se-impossible apa pun, sampai… tentang rasanya mencintai tanpa berharap.
Iya, aku mencintai semua hal tentang kamu, even all the things you consider as your flaws, aku mencintai semuanya.
Aku tahu, mungkin nantinya manusia favorit aku ini akan menemukan tempat pulang yang dia pilih. Saat itu tiba, tugas aku adalah ikut bahagia, meski rumahnya bukan aku. So please, tell me that you are happy, even if it's not with me. Tolong bahagia sama siapa pun yang kamu mau ya. Promise me that you will never feel alone.
Kalau suatu hari perasaanku bener-bener hilang dan aku nggak tahu lagi kabar kamu, tolong teruslah hidup dengan baik ya di dunia ini. Capai semua mimpi yang selama ini selalu kamu ceritain ke aku. Karena dari jauh pun, aku selalu bangga sama kamu, tanpa perlu kamu tahu.
Aku pamit ya, Karl..
But whenever you need me, I will try to be there as… anything you want me to be.
Dan kalau memang nanti semesta menakdirkan kita, then so it will be. At the right time, under the right circumstances.
Terakhir—anggap aja ini gombalan terakhir dari aku ya haha, aku nggak menyesal pernah mencintai kamu.